Senin, 14 Oktober 2013

Fungsi dan Pelestarian Tempat Suci


2.5       Fungsi Tempat Suci
            Secara umum, fungsi tempat suci adalah sebagai sarana untuk memuja Ida Sang Hyang Widhi Wasa beserta seluruh manifestasi-Nya dan juga sebagai tempat memuja roh leluhur dengan berbagai macam tingkatannya.
            Secara khusus, fungsi tempat suci adalah sarana untuk meningkatkan kualitas umat manusia, baik sebagai makhluk individu, mauoun sebagai makhluk sosial. Sebagai makhluk hidup, umat manusia berkewajiban mengupayakan dirinya secara individu berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa dan roh suci leluhurnya. Hubungan secara individu ini bertujuan untuk mengkomunikasikan Sang Hyang Atma yang ada pada diri manusia dengan TYME sebagai sumbernya.
            Manusia sebagai makhluk sosial sangat membutuhkan hubungan sosiologis dengan sesamanya dan alam lingkunganya. Pada tempat suci, umat hindu dapat mengembangkan dirinya untuk saling mengenal di antara mereka sehingga kerukunan intern umat beragama dapat diwujudkan.
            Tempat suci sebagai sadhana untuk meningkatkan berbagai macam keterampilan umat manusia.
Fungsi tempat suci dapat dijabarkan sebagai berikut.
a.       Sebagai lambang alam semesta
b.      Sebagai sarana pemujaan Tuhan beserta Prabawa-Nya
c.       Sebagai sarana pemujaan roh suci leluhur
d.      Sebagai sarana menumbuhkan keterampilan yang berkualitas
e.       Sebagai tempat mengembangkan seni budaya
f.       Sebagai tempat membina sradha umat
g.      Sebagai tempat membina kehidupan sosial umat
h.      Sebagai tempat membina ketahanan rohani dan jasmani umat
i.        Sebagai tempat menyelenggarakan yadnya
 2.6      Pelestarian tempat suci
1.      Melaksanakan Panca Yadnya
Panca Yadnya adalah lima macam korban suci yang dilaksanakan dengan landasan hati tulus ikhlas kehadapan Sang Hyang Widi beserta manifestasi-Nya termasuk kehadapan roh suci leluhur dengan berbagai macam tingkatannya. Panca Yadnya merupakan realisasi dari Tri Rnam. Adapun bagian-bagian dari panca yadnya adalah sebagai berikut.
a.       Dewa Yadnya
Dewa yadnya adalah yadnya yang dipersembahkan kehadapan Sang Hyang Widhi beserta seluruh mnifestasi-Nya. Upacara dewa yadnya dilakukan dalam bentuk upacara pujawali atau piodalan di pura dan sanggah merajan yang didahului dengan upacara pamrassita(melepas). Upacara mendem pedagingan lebih tempat suci yang lebih dari sepuluh tahun. Disamping itu, dalam melaksanakan melasti dalam rangka Tawur kesanga, Galungan, Sarasvati, Sivaratri, dan hari suci hindu lainnya.
b.      Bhuta Yadnya
Bhuta yadnya adalah yadnya yang dipersembahkan kepada para bhuta kala. Upacara yang dilakukan bertujuan untuk nyomia (menetralisir) para Bhuta Kala atau berbagai ketakutan negatif yang dipandang dapat mengganggu Bhuana Agung dan Bhuana alit termasuk manusia.
Pada hakikatnya, tujuan pelaksanaan bhuta yadnya adalah untuk mewujudkan bhuta kala menjadi bhutahita yang artinya menyejahterakan dan melestarikan alam lingkungan.
Pelaksanaan upacara bhuta yadnya disesuaikan dengan tingkat dan jenisnya serta hendakanya dilestarikan sehingga terbebas dari bhuta kala. Dengan upacara bhuta yadnya diharapkan kesejahteraan alam semesta beserta isinya tempat suci menjadi terjaga kesuciaanya.
c.       Pitra Yadnya
Pitra Yadnya adalah yadnya yang dipersembahkan kepada roh suci leluhur. Leluhur atau pitara adalah orang tua mempunyai peranan penting dalam kehidupan kita. Dengan sempatasnya kita harus berbakti kepada mereka.
Dalam kitab Taitreya Upanisad menjelaskan sebagai berikut.
Pittri dewa bhawa, maitri dewa bhawa.
Terjemahan :
Ayah adalah perwujudan dewa (dalam keluarga), ibu adalah perwujudan dewa (dalam keluarga).

Di kalimantan, upacara penghormatan kepada leluhur disebut dengan upacara Tiwah. Sedangkan di Bali disebut dengan upacara Atiwa-tiwa atau ngaben. Setelah upacara tersebut selesai dilaksanakan, upacara Dewa Pitra Prasita yaitu upacara mensthanakan atau ngelingghanng dewa hyang di tempat suci, seprti pelinggih kemulan atau pelinggih ibu.
d.      Manusa Yadnya
Manusa Yadnya adalah salah satu bagian daro Panca Yadnya yang berari beryadnya kepada umat manusia. Manusa yadnya juga disebut Nara Yadnya, yaitu memberi makan pada masyarakat (maweh pangan ring kraman) dan melayani tamu dalam upacara (athiti puja). Upacara manusa yadnya termasuk sarira samskara, yaitu peningkatan kualitas hidup manusia. Contohnya di Bali ada upacara pawiwahan atau perkawinan.
Berdasarkan keyakinan umat hindu mengenal adanya samsara yaitu kelahiran kembali roh para leluhur yang masih karma wasana. Oelh umat hindu yang hidup berumah tangga hendaknya menyiapkan tempat suci dalam sebuah pekarangan yang dapat difungsikan sebagai tempat lahir, hidup, dan kehidupan secara layak. Keberadaan rumah tinggal mutlak harus disiapkan karena di tempat itulah insan yang lahir dapat dipelihara, dibesarkan, dan dididik.
e.       Rsi Yadnya
Rsi Yadnya adalah yadnya yang dipersembahkan kepada para maha rsi yaitu orang suci yang sangat berjasa dalam pengajaran agama hindu dan pembangunan tempat-tempat suci hindu. Upacara Rsi Yadnya merupakan salah satu cara yang dapat dilaksanakan oleh umat hindu untuk melakukan warisan yang diberikan oleh para maha rsi, seperti melayani pendeta atau sulinggih, memperlajari dan memahami sastra agama, melanjutkan cita-cita para rsi, dan melaksanakan Rsi Bojana, yaitu upacara penghormatan kepada para sulinggih dengan penyuguhan makanan yang disajikan dengan sangat hormat.  

2.      Membangun Tempat Suci
Tempat suci yang diwariskan oleh para leluhur kita telah miliki sudah cukup tua. Dengan demikian, kewajiban kita untuk mengadakan renovasi atau perbaikan-perbaikan seperlunya dengan mempertahankan fungsi aslinya.
 
3.      Menjaga kesucian Tempat Suci
Dalam fungsinya sebagai sthana Sang Hyang Widi, tempat suci hendaknya terjaga kesucian dan keselarasannya. Akhirnya, tempat suci akan terhindar dari unsur cemer (mencemari) dan kesakralan semkain tumbuh dan berkembang.
Guna menjaga kesucian dan kesakralan tempat suci itu ada beberapa hal yang patut diketahui, dipahami, dan dilaksanakan.
a.       Tidak masuk ke tempat suci dalam keadaan kotor, leteh, cuntaka,baik dari diri sendiri, orang lain, maupun lingkungan sekitar
b.      Tidak masuk tempat suci yang masih diliputi oleh keadaan pikiran, perkataan, dan perilaku yang dikuasai amarah atau brahmatya
c.       Tidak cemburu rayu di tempat suci
d.      Tidak membawa barangbarang, tumbuh-tumbuhan, dan binatang yang belum disucikan oleh yang berwenang masuk ke tempat suci
e.       Melarang dan menghindarkan binatang masuk tempat suci
f.       Menghindarkan aktivitas hidup dan kehidupan yang dapat mencemari kesucian tempat suci

4.      Menjaga Keasrian Tempat Suci
Wujud tempat suci sebaiknya ditampilkan dalam bentuk yang tertata dengan asri. Keasrian suatu tempat memiliki hakikat sebagai wujud dari keindahan, kebersihan, kesehatan, dan kedamaian. Pada ruang yang kosong “telajakan” tempat suci itu bisa bunga atau tanaman hias yang diharapkan tidak mengganggu pelaksanaan acara dan ritual yang berlangsung.
Demikian pula kebersihannya, kebersihan tempat suci juga menjadi tanggung jawab para umat atau krama di samping jero mangku yang bertugas tetap pada tempat suci itu. Para umat melaksanakan kebersihan setiap minggu atau sebulan sekali secara berkesinambungan sedangkan jero mangku melaksanakan kebersihan setiap hari. Dengan demikian kebersihan tempat suci tetap terjaga.
Tempat suci biasanya dibangun pada bagian hulu dari pemukiman krama atau umat. Tempat suci dilambangkan sebagai kepala dari umat yang dilambangkan sebagai pangemponnya. Jika kepalanya tidak dalam keadaan asri, bersih, dan terjaga, jiwa raga dari para pangempon yang bersangkutan dapat terwujud kedamaian.  
           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar