Sebelumnya terima kasih atas waktu yang
diberikan kepada saya. Pertama-tama perkenankanlah saya menghaturkan panganjali
umat,
“Om Swastiastu”
“Assalamu’alaikum Wr Wb”
Dan salam sejahtera kepada kita semua. Yang
terhormat kepada Ibu guru yang berada di samping saya selaku guru Bahasa
Indonesia dan seluruh teman-teman disini yang saya cintai, yang tidak bisa saya
sampaikan satu persatu. Puja dan puji syukur kita panjat kepada Tuhan Yang Maha
Esa, karena atas rahmat-Nya kita dapat berkumpul pada pagi hari ini dalam
keadaan sehat dan berbahagia.
Hadirin sekalian, pada kesempatan kali
ini saya akan menyampaikan sebuah uraian tetang Penyiaran Televisi.
Pada hakekatnya, televisi memiliki
karakter yang tidak dimiliki oleh media lainnya. Adapun karakteristik televisi
antara lain :
1. Pesan
Media ini dapat sampai kepada pemirsanya tanpa memerlukan bimbingan dan
petunjuk
2. Pesan
itu sampai tanpa memerlukan pemikiran
3. Televisi
tidak memberikan pemisah bagi para pemirsanya, artinya siapa saja dapat
menonton televisi
Jadi, televisi dapat dikatakan sebagai
media pandang dengar (audio visual), televisi memang telah menyajikan secara
instan isi siarannya kepada pemirsa dari berbagai latar belakang usia,
pendidikan, dan status sosial dan sifat penontonnya yang heterogen.
Karakteristik televisi seperti ini, tentu membuat pengaruhnya lebih luas
cakupannya dibandingkan media cetak dan radio.
Televisi juga menyajikan pesan secara
dramtis, karena dia menggunakan dua indera sekaligus yaitu pengelihatan dan
pendengaran (audio-visual) dan pesan yang sampai seketika, tidak dapat diulang,
kecuali tayangan/program siaran ulang (re-un). Gambar yang hadir berganti
cepat, penuh warna, dan juga ilustrasi suara berupa music instrumentalia
dan/atau lagu dan membuat pemirsa sering kali hanyut ketika menonton.
Akibatnya, pemirsa menonton televisi secara “tidak sadar” atau tidak
menggunakan bagian otak yang berfungsi untuk menganalisis (direktor), namun
hanya bagian otak yang berfungsi responsive semata. Apalagi siaran biasanya
salah satu hal yang paling berpengaruh bagi anak-anak, jika siaran tersebut
tidak diatur maka perilaku anak akan cenderung mengikuti hal yang dilihatnya di
tv dan mempengaruhi kelakuannya di masa depan.
Agar hal tersebut tidak
terjadi, menentukan jadwal jam menonton tv itu perlu dilakukan oleh setiap
keluarga di dunia, khususnya di Indonesia. Pengaturan jam menonton tv ini akan
berjalan efektif jika ada kesepakatan antara seluruh anggota keluarga. Orang
tua merupakan contoh pertama bagi anak-anak. Para orang tua disarankan agar
menonton tv dijadikan sebagai kegiatan memilih acara atau program yang
ditawarkan oleh tv dan menonton tv menjadi tidakan yang mempunyai tujuan yakni,
mendidik, informative, dan sesuai dengan usia anak-anak.
Hadirin sekalian,
demikian uraian saya tentang Penyiaran Televisi. Saya harap apa yang saya
sampaikan akan bermanfaat bagi hadirin semuanya. Atas perhatian dan waktunya
saya ucapkan terima kasih.
“Om Santih, Santih,
Santih, Om”
“Assalamu’alaikum Wr Wb”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar